Yaman kini dikenal sebagai salah satu negara termiskin di Jazirah Arab, padahal wilayah ini pernah menjadi pusat strategis bagi perdagangan dan pelayaran sejak abad ke-19. Transformasi ekonomi dan sosialnya mengalami penurunan drastis sejak lepas dari Inggris pada 1967, khususnya di wilayah Aden yang sebelumnya menjadi basis angkatan laut Inggris.
Pada era kolonial, Aden bukan hanya pangkalan militer, tetapi juga pelabuhan internasional yang ramai dilalui kapal dagang dan kapal haji dari Asia Tenggara hingga Afrika. Keberadaan armada Inggris memberi keamanan dan stabilitas yang mendorong aktivitas ekonomi lokal, perdagangan, dan jasa maritim.
Setelah Inggris meninggalkan Aden, pelabuhan ini berubah fungsi menjadi pelabuhan biasa, kehilangan status strategisnya sebagai titik transit regional. Banyak fasilitas militer dan sipil yang ditinggalkan tak terawat, sementara jaringan perdagangan yang sebelumnya bergantung pada armada Inggris runtuh perlahan.
Perubahan ini berdampak pada ekonomi Yaman secara keseluruhan. Kapal-kapal dagang dan kapal haji yang sebelumnya singgah di Aden kini mulai tak ada khususnya setelah Arab Saudi mewajibkan jemahah haji naik pesawat. Hal ini menurunkan pendapatan lokal dari perdagangan dan jasa maritim, yang sebelumnya menjadi tulang punggung perekonomian Aden dan sekitarnya.
Yaman juga mengalami penurunan peran strategis internasional. Dahulu, kota-kota pesisirnya menjadi persinggahan penting bagi kapal-kapal yang menuju Laut Merah atau Teluk Aden. Kehilangan fungsi ini membuat negara tersebut semakin terisolasi secara ekonomi dari jaringan perdagangan global.
Dampak langsungnya dirasakan pada lapangan kerja dan pendapatan rakyat. Banyak tenaga kerja yang sebelumnya bergantung pada sektor pelayaran, logistik, dan perdagangan internasional kehilangan pekerjaan. Ekonomi lokal yang berbasis jasa dan perdagangan melemah drastis.
Selain Aden, faktor geografis dan infrastruktur juga membatasi pertumbuhan ekonomi Yaman. Negara ini memiliki pegunungan yang tinggi, gurun kering, dan akses terbatas ke jalur transportasi modern. Infrastruktur jalan dan komunikasi yang minim memperlambat integrasi pasar domestik dan pengembangan industri.
Seiring waktu, faktor internal politik juga memperburuk kondisi ekonomi. Konflik internal, pergantian rezim, dan ketidakstabilan pemerintahan membuat investor asing enggan menanam modal. Kebijakan ekonomi yang sering berubah menambah ketidakpastian bagi sektor swasta.
Sektor pertanian, yang dulu menopang sebagian besar penduduk, juga menurun produktivitasnya akibat kekeringan, erosi tanah, dan pengelolaan air yang buruk. Yaman memiliki sejarah pertanian subur di lembah-waduk, tetapi ketidakmampuan modernisasi membuat sektor ini tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi.
Pergeseran jalur transportasi haji juga memberi dampak signifikan. Dahulu, banyak jamaah haji dari Asia Tenggara dan Afrika singgah di Aden sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekah melalui laut. Kini, sebagian besar perjalanan haji dilakukan melalui udara langsung, menghilangkan aliran ekonomi yang signifikan dari wisata religi dan layanan logistik.
Fenomena ini mirip dengan yang terjadi di Sudan pada awal abad ke-20. Dahulu Sudan merupakan persinggahan pedagang dan jamaah yang menuju Mesir melalui Sungai Nil. Setelah Terusan Suez dibuka, jalur perdagangan tersebut berubah, dan Sudan kehilangan sebagian besar peran transitnya. Akibatnya, perekonomian Sudan melemah meski sumber daya alam tetap ada.
Kehilangan posisi strategis sebagai hub perdagangan membuat Yaman kesulitan menarik investor dan mengembangkan industri modern. Pelabuhan yang sebelumnya ramai kini kekurangan lalu lintas, dan potensi ekonomi laut menjadi hampir tidak dimanfaatkan.
Selain itu, ketergantungan pada ekspor minyak dan gas baru muncul secara terbatas, berbeda dengan negara Teluk lain yang mampu mengembangkan industri energi secara masif. Yaman tidak memiliki cadangan minyak yang besar, sehingga kehilangan jalur perdagangan maritim membuat perekonomian semakin rentan.
Kesenjangan sosial juga melebar. Kota-kota pesisir seperti Aden kehilangan sumber pendapatan utama, sementara wilayah pedalaman yang miskin tetap tidak terintegrasi dengan pasar nasional. Hal ini menimbulkan kesenjangan ekonomi antara wilayah pesisir dan interior, memperparah kemiskinan.
Konflik politik dan militer berkepanjangan juga menjadi faktor utama kemiskinan. Perang saudara, intervensi asing, dan persaingan milisi menghambat pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan. Dampaknya, produktivitas nasional menurun drastis.
Selain faktor ekonomi dan politik, perubahan demografi juga berdampak. Migrasi keluar dari kota-kota besar yang sebelumnya hidup dari perdagangan membuat kota-kota ini kehilangan tenaga kerja terampil, mengurangi dinamika ekonomi dan inovasi.
Pemerintah Yaman setelah kemerdekaan juga belum mampu membangun kebijakan ekonomi yang berkelanjutan. Kurangnya stabilitas hukum, korupsi, dan birokrasi yang lemah membuat program pembangunan gagal mencapai target.
Hubungan internasional yang terbatas juga menahan pertumbuhan ekonomi. Negara-negara tetangga dan investor asing melihat Yaman sebagai risiko tinggi akibat ketidakstabilan, konflik internal, dan lemahnya proteksi hukum.
Akhirnya, kombinasi dari faktor sejarah, geografis, politik, sosial, dan ekonomi membuat Yaman menempati posisi termiskin di Jazirah Arab. Kehilangan jalur perdagangan strategis, hilangnya peran Aden, dan ketidakmampuan memanfaatkan potensi lokal menjadi faktor utama kemiskinan.
Seperti Sudan yang melemah setelah jalur perdagangan berpindah karena Terusan Suez, Yaman kehilangan arus ekonomi penting akibat pergeseran jalur haji, perdagangan, dan kepergian Inggris. Kini negara ini menghadapi tantangan besar untuk membangun kembali ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar